Banyak Produk, Customer Makin Bingung
More products should mean more opportunities.
So why does your audience look more confused?
Punya banyak produk memang terdengar seperti keuntungan. Pilihannya lebih banyak, kebutuhan yang bisa dilayani juga lebih luas. Tapi dari sisi marketing, ada masalah yang sering baru terasa ketika katalog mulai bertambah: semakin banyak yang ingin dikomunikasikan, semakin sulit menentukan apa yang harus dilihat customer lebih dulu.
Bayangkan seorang customer baru datang ke website atau Instagram bisnis Anda. Di sana ada belasan produk. Semuanya punya keunggulan masing-masing. Semuanya terlihat penting.
Lalu customer harus mulai dari mana?
Ketika semua produk mendapatkan porsi komunikasi yang sama, tidak ada satu pun yang benar-benar terasa sebagai titik awal. Feed akhirnya terlihat seperti katalog yang terus berjalan, sementara produk yang sebenarnya paling ingin Anda dorong justru ikut tenggelam.
Banyak Produk Tidak Harus Dipromosikan Bersamaan
Ini bukan berarti produk tertentu tidak penting. Masalahnya lebih sederhana: audience membutuhkan arah.
Sebuah bisnis dengan banyak produk perlu menentukan peran masing-masing produk dalam komunikasi. Salah satu cara melihatnya adalah dengan membagi produk menjadi tiga kelompok: hero product, supporting product, dan entry product.
Hero product adalah produk yang paling ingin Anda tanamkan di benak customer. Bisa karena margin, popularitas, positioning, atau memang produk tersebut paling mewakili bisnis Anda.
Kemudian ada supporting product. Produk ini tetap penting, tetapi perannya mendukung hero product atau melengkapi kebutuhan customer setelah mereka mengenal bisnis Anda.
Sementara entry product bisa menjadi pintu masuk bagi orang yang baru pertama kali berinteraksi dengan brand. Harganya mungkin lebih mudah dijangkau, produknya lebih sederhana, atau manfaatnya lebih mudah dipahami.
Pembagian seperti ini membuat komunikasi punya alur.
Customer tidak harus mengenal semuanya sekaligus.
Marketing Jadi Lebih Mudah Saat Prioritasnya Jelas
Masalah sering muncul ketika tim marketing menerima pesan yang kurang lebih sama setiap minggu:
“Jangan lupa promosikan produk yang ini juga.”
Lalu produk lain menyusul.
Akhirnya semua masuk kalender konten.
Tim memang berhasil mengomunikasikan banyak produk, tetapi belum tentu membantu customer mengambil keputusan. Terlalu banyak pilihan tanpa konteks justru bisa membuat orang menunda memilih.
Dengan prioritas yang lebih jelas, tim punya ruang untuk membangun cerita. Hero product bisa mendapatkan lebih banyak perhatian. Supporting product muncul ketika memang relevan. Entry product digunakan untuk membuka percakapan dengan audience baru.
Produk lain tetap bisa dipromosikan. Hanya saja, tidak semuanya harus berteriak di waktu yang sama.
Customer Tidak Butuh Melihat Semuanya Sekaligus
Sebagai business owner, wajar kalau Anda merasa setiap produk layak ditampilkan. Anda tahu proses di baliknya. Anda tahu kenapa produk tersebut dibuat. Anda tahu potensinya.
Customer belum tentu punya konteks yang sama.
Mereka hanya melihat apa yang muncul di depan mereka.
Karena itu, marketing bukan soal menunjukkan sebanyak mungkin produk yang Anda punya. Kadang tugasnya justru memilih produk mana yang perlu dilihat lebih dulu, dan kenapa.
Di Metasocial Indonesia, kami melihat strategi konten bukan sekadar mengisi kalender dengan semua hal yang bisa dipromosikan. Komunikasi yang lebih terarah memberi customer jalan untuk mengenal bisnis Anda tanpa harus mempelajari seluruh katalog terlebih dahulu.
Lagipula, Anda tidak perlu membuat customer mengingat semuanya dalam satu kunjungan.
Cukup beri mereka satu alasan untuk berhenti, satu produk untuk dikenali, lalu satu langkah untuk mencari tahu lebih jauh.
Jangan biarkan kompetitor merebut semua calon pelanggan Anda. Konsultasikan kebutuhan konten dan optimasi media sosial bisnis Anda bersama tim ahli MetaSocial sekarang juga!
- 🌐Website Resmi: metasocial.co.id
- 📸 Instagram Resmi: @metasocial.official


Leave a Comment